Perihal pertama dalam upaya untuk bisa hemat adalah bersikap awas terhadap kebiasaan sehari-hari. Gaya hidup sederhana adalah terkait dengan pilihan; tentang bagaimana kita membelanjakan uang, membeli kebutuhan-kebutuhan hidup, termasuk menghibur diri dan menikmati waktu luang. Ini bukan sekedar perkara membelanjakan lebih sedikit, tapi juga mengkonsumsi perihal yang berbeda.

Perihal kedua yang patut diwaspadai adalah sifat impulsifitas. Banyak orang yang membeli sesuatu tanpa perencanaan. Mereka langsung membeli seketika setelah mereka melihat dan menginginkan sesuatu. I want it and I want it Now. Gawat nih. Untuk perihal seperti ini, saya biasanya mendiamkan diri dulu hingga perasaan impulsif itu mereda. Soalnya dari pengalaman, setiap beli barang secara impulsif, mulai dari makanan kah, barang-barang kecil sampe laptop, impulsifitas pasti membawa penyesalan yang gelo. Rasa senangnya tidak bertahan lama, terutama setelah rasionalitas & pertimbangan membuat diri menilai sebagaimana mestinya.

Perihal ketiga terkait dengan pilihan untuk mencari kesenangan. Bisa jadi kita punya aturan yang mahal atas kesenangan. Misal baru tersenangkan bila makan di Restaurant atau Cafe  (terlepas dari bagaimana rasanya, mungkin ada keyakinan bhw Pizza seharusnya enak, karena banyak yang makan di sana), baru tersenangkan bila nonton di Cinema 21, punya motor cowok dsb. Standard kesenangan jadi terlalu tinggi, dan malah merepotkan. Perlu kiranya kita belajar untuk tersenangkan “sekedar” dengan nasi yg dimakan,dengan motor yang masih bisa jalan, dengan hape yang masih bisa dipake SMS dengan baik sekali, dengan komputer yang masih bisa bermain Zuma dsb. Sebenarnya kalau kita pandai bersyukur, gaya hidup hemat akan mudah kita jalani. Saya sendiri ngaca  & masih terus berusaha.